MOK, KNI … Cieeee
Seperti biasa, Oomnya Vito yang di Palembang – Oom Andre Wong – memberikan catatan kritis usai perhelatan besar. Macam evaluasilah kira-kira. Tapi dalam versi Oom Andre, catatan kritis terkategori gerutuan/gerundelan atau renungan gombal amoh. (Yang namanya gombal, ya pasti amoh to?)
Menurut Oom Sudi (Papa Prima), Sang Intelektual Virtual itu; kegiatan nggerundel macam ini disebut “consideratio status”. Langkah awal menuju kontemplasi tingkat tinggi. Ciaattttttt… saking tingginya menclok pohon angsana depan rumah gara-gara arak Bali dosis tinggi hihihihihihihihi…
Apa yang digerutui Oom Wong? Tak lain tak bukan dampak lanjutan pencopotan baliho-baliho menuju ke arah dan di kawasan Jakabaring sekitarnya, usai adu otot SEA GAMES. (Entah yang ke berapa aku sendiri enteuk nyahok).
Kembali, …. yahhh kembali warga Palembang di hadapan realitas yang seutuhnya. Tak sampai habis seliter bensin, masih dalam jangkauan dentum kembang api (kata Toni); Anda dapat saksikan kenyataan kekumuhan yang butuh muka setebal badak untuk mengingkarinya. Di pinggir Musi, hingga kini, masih dapat Anda saksikan jubelan manusia berebut hidup.Di Tangga Buntung misalnya, tempat Bapak Vito dan teman-temannya bertarung dalam hitungan tahunan; citra “lecek” beraroma kriminalitas masih amat sangat kental. Antrian ibu-ibu pemburu minyak tanah masih ada; rebutan raskin juga belum sirna.
Lha kan tak perlu menunggu Palembang menjadi daerah adil, makmur, merata, sejahtera bahagia selama-lamanya untuk menjadi tuan rumah pesta olah raga se-Asia Tenggara?
Dasar gombal… Emang adil makmur boleh impor dari Hongkong?
Lha wong para penduduk di sekitar anakan Musi terendam air pasang berbulan-bulan pun, dicuekin. Padahal , jarak antara pusat pemerintahan dengan wilayah itu hanya sejauh rantauan kerbau. Para petinggi di sekitaran Jl. A. Rivai mungkin ada yang tidak sadar, bahwa masih banyak sekolah yang dalam kondisi tak layak huni. Pernah pada suatu masa, Bapak Vito temukan dengan sekolah berplafon jebol disangga kayu gelam; meja-meja guru roboh saat dipindahkan karena kakinya di makan rayap.
Aku menduga, sebetulnya Oom T. Wong tuhh mau mengumpati gejala “megalomania” yang hinggap di mana-mana. Tapi dasar Si Oom Wong sangat santun sebagai mana layaknya seorang seniman; maka yang keluar hanyalah gerutuan; bukan hujatan.
Kukira, Oom Wong sah-sah saja menggugat manfaat jedar-jedor kembang api, terhadap perut yang hampir lekat sekarat.Valid juga kalau dia menggugat “efek” juara umum terhadap kemsalahatan umat Palembang. (Halaahhh … koq sampai sejauh itu).
Coba apa yang tersisa setelah dua hari ini? Apa perut lapar masih bisa dikenyangkan dengan kenangan kebyar-kebyar di langit Bumi Sriwijaya?
Lha kan dengan diselenggarakannya SEA GAMES di Palembang kan, akhirnya membawa Indonesia KEMBALI ke posisi juara umum………………… (huhhh dasar bawel!!!).
Iya . Iya. Siapa sih yang menyangkal kenyataan itu? Cuma, pernahkah kalian dengar pepatah nenek moyang “Menang Ora Kondang, Kalah Ngisin-isini”? Bagi Pak-e Vito; ke-menjadijuaraumum-an adalah keniscayaan. Bagaimana tidak?
Indonesia menjadi juara umum itu; HARUS!. Sudah layak dan sepantasnya, sejak SEA GAMES dibuka hingga berhenti entah kapan.
Indonesia baru cocok jadi kontingen penundang…. nanti ….. Nanti kalau ada negara yang melebihi Indonesia besarnya; baik dalam luas wilayah, kekayaan, jumlah penduduk (dan jumlah kekacauan xixixixixixixixixi…) .
Di Asia Tenggara ini, mana ada yang sanggup menandingi kehebatan Indonesia? Tak ada, Bung!!! Hanya karena salah uruslah; maka prestasi atlet-atlet Indonesia terjerembab ke titik nadir. Jadi kalau Indonesia menjuarai apapun dalam bidang apapun, termasuk gaple sekalipun; bukan sesuatu yang BESAR-BESAR NIAN. Bapak pilihan,banyak bakat. Jumlah manusia Indonesia di tingkat Asia hanya bisa dikalahkan cina. Kalau tebaran bakat ini tak terasah menjadi berlian hidup; yang salah memang rumput yang bergoyang. Kenapa hanya bergoyang; tak jadi pelatih Timnas saja?
Indonesia baru benar-benar kondang, kupikir setelah mampu merontokkan dominasi negara Barat di ajang Olympiade. Itu baru prestasi NIAN … bukan sekadar jago kandang.
(Baiknya gerutuan ini diteruskan nggak ya …)