Jakarta, 5.00 WIB.
Ketukan-ketukan mendarat di pintu rumah.
Seorang Mas, kerabat jauh keluarga kami, tergopoh-gopoh menanyakan alamat dan no.telpon kenalan lain yang berprofesi sebagai pengacara.
“Koq ndak telpon aja to, Mas…”
“Wah sudah sejak jam empat tadi tak-call, ndak nyambung…”
“Wah …… Nyuwun pangapunten, Mas. Wonten punapa, to?”
Kegelisahan yang amat sangat di raut wajah paro baya itu, terurai kemudian.
Beberapa jam sebelumnya, putra bungsunya dikabarkan terjerembab ke kubangan kasus narkoba. Tragedi yang tak pernah terbayangkan akan terjadi dalam keluarga Mas itu.
Si Mas hanya beranak dua orang. Putra semuanya. Si Sulung telah bekerja, bahkan tak lama lagi menikah. Sementara itu si bungsu, masih kuliah.
Meski “diproduksi” di satu pabrik, oleh ahli yang sama pula; namun tabiat kedua buah hati itu berbeda bagai langit dan bumi.
Si Sulung termasuk penurut. Semua jenjang akademisnya terlalui normal. Sedangkan si Bungsu entah bagaimana, lebih “dinamis menuju ke bebas”. Sekolahnya memang lancar; hanya (kesan kami selama ini) sepertinya tidak dijalani sungguh-sungguh.
Mas dan Mbak itu termasuk keluarga terpandang; meski tidak kaya raya. Beliau berdua, aktivis kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Bisa kurasakan betapa telak tonjokan tragedy ini terhadap ketabahan Si Mas dan Mbak. Kami bertekad untuk berusaha semampunya menghandle apa yang beliau minta; menyediakan kuping kami; menemani Mbak yang sangat shock.
Seminggu telah berlalu. Mbak jatuh sakit.
Adik menyediakan diri 24 jam untuk menemani beliau.
Proses hukum terus bergulir sebagaimana seharusnya.
Keluarga baik-baik, terpelajar, taat beribadah, tidak selalu cukup kuat menahan gempuran pengaruh (negative) perkawanan jaman ini.