Kalau di Jawa, ceker diolah jadi makanan layak jual, sering kita temukan (mungkin).
Tapi, kalau di area tempatku menghabiskan hari, sekarang ini; belum sebulan kutemukan.
Sungguh.
Aku telah mengitari hampir seluruh sudut kota. Baru sekitar 3 minggu lalu kujumpai sebuah warung mungil, 25 meter dari Simpang Lima Lebong Siareng; yang gagah berani mencantumkan tulisan : “Mie Ayam, Ceker, Model”.
Mie Ayam, banyak orang tahu rasa , bentuk dan harganya.
Model adalah kudapan khas kota ini, hampir mustahil jika ada yang bilang tak pernah nyicip.
Ceker…???
Wowww … dari balita hingga manula, hampir dapat dipastikan 95% pernah melihatnya.
Ceker dijual bersama mie ayam???
Ha…ha…ha… meski ceker bagian dari ayam, namun terkesan aneh jika justru si ceker yang jadi perangsang orang untuk nongkrong di warung mungil itu.
Lebih dari lima kali sejak, dibuka awal Maret ini kusinggahi warung itu.
Menjadi rahmat tersendiri, aku punya kemampuan untuk cepat akrab dengan pemilik dan pelayan warung-warung kecil, selama perjalanan.
Porsi (lebih banyak) dan tarif istimewa (lebih murah) kadang-kadang disodorkan tanpa kuminta ….ha…ha…ha…
Suatu sore, sambil membawa agenda tersembunyi; aku mengajak seseorang sobat yang sering mengeluhkan tidak adanya peluang sekecil apapun untuk berusaha kecil-kecilan di kota ini. Kuajak dia makan mie ayam … ceker.. Sampai perut sesak tentunya.
Kutanya: “Enak?”
Dia hanya manggut-manggut, cengar-cengir.
Lagi, “Ada kesan?”
“Belum sampai detik ini, Bung..?
“Nggak apa-apa, barangkali muncul setelah dikau berbaring nanti. Terus terang, aku punya maksud tertentu membawamu ke sini, sobat.”
Tiga sore sesudahnya, satu SMS membuatku tertawa …
“Ternyata ceker pun bisa jadi duit ya, Bung. Bodoh kali aku ini. Aku mau coba sikit kreatiflah … mengeluh tak selesaikan masalah.”
Ehm … aku berniat buka warung lontong atau pisang goreng, kalau pulang kampung nanti.