Suatu sore kelabu, seorang sahabat nyeletuk bengis ketika kami melintasi rumah berpagar amboi indah sekali itu
“Pemilik rumah itu bangsat betul, ya Mas?”
“Lho?”
“Mosok buat pagar aja kayak gitu. Berapa peti sih duitnya? Mas kan tahu, nggak sampai 20 menit dari sini, bertebaran sekian banyak rumah beratap seng keropos, lalang, dinding papan pun masih bolong sana-sini? Koq ndak punya sensitivitas sama sekali!”
Aku hanya tersenyum getir. Lebih tepat menyeringai.
“Kalau memang dia mampu, apa salahnya to, Dik? Lagipula rejekinya orang kan beda-beda. Jangan gitu ahh..”
Masih saja ia menggerutu panjang pendek.
“Opo yo mungkin to, Mas …wong kita semua tahu kerjaannya kan sebagai pegawai pemerintah. Gajinya piro ….? Kalau ndak “urik”, mustahil … mustahilllll…!!
“Jangan berprasangka buruk, ah. Tidak baik itu. Boleh jadi dia punya usaha sampingan; misalnya makelar tanah, juragan minyak goreng … atau apa gitu …”
Perjalanan panjang sore itu diwarnai makian panjang pendek dari sahabat kental tadi. Aku hanya diam, mendengar sambil konsentrasi pada jalanan. Takut nyenggol orang.
Ketimpangan memang jelas terbaca. Di sana-sini.
(Sayang ya … aku belum bisa meng-unggah foto ke coretan ini).
Di satu sisi, ada orang yang sanggup menumpuk harta karun hingga sekian turunan.
Di sisi lain, tak terhitung keluarga yang mesti bersusah payah menyediakan minyak tanah untuk lampu thinthir dan masak bubur untuk anaknya.
Para sahabat dari jalur aktivis NGO, kadang-kadang meneriakkan pernyataan yang masuk akal, benar, meski menyakitkan.
Semua ini berpangkal pada pemiskinan structural.
Kemiskinan yang disebabkan oleh produk birokrasi yang tak tanggap jeritan “wong cilik”
Kemiskinan yang disebabkan oleh aturan-aturan yang minim sekali keberpihakannya pada orang-orang lemah …. Etc, etc…
Katanya …gitu.
Aku memilih, untuk tidak terus-terus hidup dalam pikiran tersulut amarah.
Tampaknya, menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan ini, sambil menunggu datangnya mentari esok hari; jauh lebih bermanfaat daripada merutuki kegelapan itu, tanpa henti.