Dua orang ibu bertengkar dan saling ancam (bahkan terdengar kata bunuh!). Yang satu berusia 70 tahunan, dan satunya antara 30 tahunan.
Pasal yang dipertikaikan adalah kepemilikan sebuah rumah kecil, ukuran 2 x 3 meter, berdinding papan, beratap seng, dalam kondisi yang memprihatinkan.
Rumah itu sudah lama tak huni, hanya disambangi sesekali oleh si pemilik, ibu 70 tahunan. Tanpa sepengetahuan si pemilik, ibu 30 tahunan menghuni rumah kecil itu bersama anaknya berusia 1,5 tahunan.
Sebelumnya, ibu 70 tahunan tinggal bersama anaknya. Tapi karena persoalan keluarga, ia memilih balik ke rumah kecilnya, yang ternyata telah dihuni oleh orang yang tak dikenalnya. Aku tahu duduk perkara sengketa itu, karena mendengar dari kedua belah pihak. Aku memilih menjadi pendengar yang baik. Barangkali cara itu sedikit menurunkan tensi murka kedua belah pihak.
Tak lebih dari 150 meter dari rumah sengketa, berdiri megah rumah Tuhan (katanya) yang sedang dibangun,
Anggaran rumah Tuhan itu mendekati 1 milyaran. Aku tahu jumlah ini, karena panitia pembangunan pernah menyodorkan proposal ke tempatku. Sebagai warganegara dan tetangga yang baik, kami mencoba ikut ambil bagian semampunya.
Ketika sore merapat, caci maki mereda; termangu aku memandangi “rumah Tuhan” dari kejauhan.
Bergumam.
“Tuhan … Tuhan … perlukan Engkau rumah sebesar itu; sementara hamba-hamba sahaya dekat rumahMu hendak saling bunuh gara-gara rumah sekepal?
Tuhan … Tuhan …bisakah Engkau terima peribadatan yang tak berpijak pada bumi? Bagaimana aku bisa terus mengimaniMu, jika acuh dengan tetangga-Mu?
Bagaimana aku bisa terus bangga terhadapMu sebagai Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Cinta, … jika umatMu lebih rela memeras segala upaya demi “rumahMu” sambil abai terhadap jeritan siang bolong; kasat mata, dekat singgasanaMu pula …
Kata orang, Kau punya segalanya …
Ah .. Tuhan, aku berencana meninjau rasa tundukku pada ajaran-ajaranMu yang dikotbahkan padaku lewat para pendakwahMu …
Apa boleh buat …