Setelah mendekati 40 tahun … akhirnya Bapak-Mamak berkesempatan menikmati libur panjang. Hanya berdua.
Mengulang perjalanan awal bahtera keluarga. Yang kutahu, amat jelas dan pasti diwarnai aneka romantika asam, asem, getir, pahit, manis, sedap, dan seterusnya.
Sepuluh hari lalu, beliau berangkat dari Bengkulu. Beruntung Mamak mengalah untuk naik pesawat aja, sehingga perjalanan jadi lebih singkat. Sepanjang Januari-Februari, kami mencoba meyakinkan Mamak, bahwa rute trans Sumatera berpotensi bikin mabuk berat. Jalanan rusak. Lebih-lebih bila memasuki kawasan Sumatera Selatan.
Sepuluh hari di Bintaro.
Tadi siang, jam 11; beliau berdua diantar nomor satu, naik bis menuju Wonogiri. Wahhh … persiapan pulang kampung sudah dua hari dilakukan. Rencananya, beliau berdua akan sowan di pusara MbahKakung-Mbah Putri; nyambangi teman-teman masa muda; ziarah ke Sendang Ratu Kenya, Sendang Sono … yah semampunya. Paskahan bahkan mau dilewatkan di mBatu; setelah 33 tahun berlalu.
Sugeng tindak, Bapak-Mamak … Semoga libur panjangnya menyegarkan. Jangan lupa ya … doakan kami anak-anakmu di perantauan…