Sepanjang tahun 2006-2008, dua kali kecelakaan “bodoh” menimpaku. Bodoh, karena tak seharusnya terjadi he…he…he…atau paling tidak bisa dihindari.
Celaka pertama, terjadi pada hari pertama Idul Fitri 2006. Aku tengah mencari warung yang buka untuk makan siang. Jalanan sepi, karena hampir semua orang bersilaturahmi, bermaaf-maafan. Aku melaju dengan kecepatan dibawah 10 km/jam. Sampai sebuah simpang, aku berhenti di pinggir jalan, tengok kanan-kiri, sign dikedipkan, pastikan tak ada kendaraan, baru belok kanan.
Ehhh … dasar baru apes. Baru 2 meter dari pinggir jalan, satu sepeda motor bebek dikendarai seorang putri dalam busana silaturahmi, melaju cepat menyambar kaca spion kanan. Gedubrakkkk!!! Refleks stang terbanting ke kiri. Motor roboh, namun aku masih dalam posisi berdiri.
Gadis itu tak apa-apa, Cuma sedikit oleng. Ia berhenti sekitar 50 meter dari arahku. Kupandangi nona itu dari kejauhan tanpa kata, sambil menuntun sepeda motor ke pinggir jalan.
Hampir dua menit kulihat saja. Tak lama, dua temannya tiba dengan motor lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Akhirnya si nona berbalik ke arahku dengan wajah pucat pasi. Aku tersenyum menahan jengkel.
“ Maaf, Pak”, ujarnya sedikit gemetar.
“Ya, sama-sama. Sudah berapa lama bisa naik motor?”
“Tiga bulan, Pak?”
“Hati-hatilah, anak muda. Caramu berkendara juga sangat menentukan keselamatan orang lain. Selamat Lebaran.” Dua temannya juga menghamburkan kata-kata maaf. Ahhhh … sudahlah. Selamat bersilaturahmi.
Celaka kedua, menimpaku seminggu lalu. Pukul 20.30 WIB, Sabtu 29 Maret 2008, aku pulang dari rapat koperasi. Aku melintas jalanan sepi dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Tiba-tiba sebuah sepedamotor dari arah berlawanan membelok tanpa memberikan tanda apapun. Jarak tinggal 2-meteran. Menghindari tabrakan aku rem mendadak, sambil banting setir ke kanan (sebab kiri selokan). Gedubrakkkk!! Aku terlempar dari motor. Terkapar. Untunglah, jaket tebal, jeans dan helm melindungiku dari cedera parah karena gesekan dengan aspal. Kulihat si pembelok berhenti sejenak di pinggir jalan. Tapi begitu melihat aku bangun dan menegakkan motor, dia langsung kabur.
Alhasil … Tangan dan bahuku hingga kini masih nyeri. Apa boleh buat.
Untung tak dapat diraih, malang tak kuasa ditolak.
Sekalipun aku telah mencoba berhati-hati, sampai-sampai aku dijuluki pengendara paling sopan sejagat oleh para sahabat, tetap saja aku mengalami kebodohan-kebodohan tak perlu. Yahhh …kalau berhati-hati saja masih celaka, apalagi kalau ugal-ugalan … Wah tak terbayangkan. Kan coba lebih waspada lagi …
Sepeda motor, mudah dimiliki akhir-akhir ini. Tapi perkembangan pesat itu juga dibarengi kemungkinan celaka. Tukang ojek yang suka ngebut, anak-anak ABG yang getol pamer motor, temperamen masyarakat kampungku yang tak sabaran, berkontribusi terhadap akumulasi ancaman serius berkendara di jalanan.